Ditulis pada hari Sabtu, 15 Agustus 2020
Pkl 4.00 pagi WITA
Hikmah dari covid-19 ini adalah saya mulai punya waktu untuk memikirkan apa yang saya inginkan.
Salah satunya adalah pernikahan.
Sebenarnya bagi wanita itu pasti ada keinginan.
Dulu, memang tidak pernah berpikiran cepat nikah. Bahkan pernah berpikir tidak begitu tertarik dengan pernikahan karena ribet.
Sekarang berbeda.
Sekarang kemauan untuk di tahap itu cukup besar.
Ada beberapa kesempatan di mana ada yang mengutarakan niat baiknya namun saya kurang pas dengan caranya juga kesan yang ada setelah percakapan atau pertemuan.
Sebagai wanita mandiri, pernah juga beberapa waktu lalu mendapatkan pernyataan pria meski sudah kenal lama tapi baru terhubung lagi terus dengan serta merta menyatakan maksudnya untuk serius sementara kita baru melakukan percakapan kalau dihitung baru 4 kalimat. Saya 2 kalimat dia 2 kalimat. Tiba-tiba ingin hubungannya seserius itu. Tanpa membicarakan atau membahas tentang kehidupan sehari-hari apa. Dia suka apa, saya suka apa. Apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan. Itu sama sekali tidak ada.
Saya sih maunya, lebih penting membahas hal yang prinsipil. Apa tujuan hidupnya, tujuannya menikah, ia akan menjadi suami seperti apa, saya diharapkan menjadi istri seperti apa. Bagaimana hubungan dengan keluarganya juga keluargaku. Apa yang dia suka atau hobinya apa. Saya suka dan hobinya apa.
Yaa. Tapi sejauh ini belum dipertemukan dengan yang seperti itu.
Saya orangnya to the point. Saya tidak bisa baca kode sama sekali tidak mengerti. Tapi saya sebagai perempuan tidak merasa percaya diri juga untuk menyatakan perasaan suka kepada pria yang saya suka. Namanya juga orang asia. Yang jelas kalau saya rajin nanya dan minta pendapat seseorang atau mengomentari rutinitas dia, itu artinya saya suka. Atau jika saya sudah bertanya tentang pemikiran dia tentang suatu hal, itu saya tertarik. Tapi ya sudahlah ya.
Maunya sih orang yang suka menyatakan suka ke saya baru sayapun akan menyatakan perasaan saya. Memastikan punya rasa yang sama kemudian barulah membicarakan hal-hal tadi.
Saya tidak begitu nyaman diajak keluar jalan atau nelpon berbicara.
Yang saya nyaman melalui pesan menjelaskan semuanya tentang dirinya dan harapannya.
Saya sesimple itu.
Tapi dengan catatan orang tersebut tidak punya hubungan dengan siapapun secara resmi atau apapun istilah hubungannya.
Karena saya tidak suka mengambil yang bukan untuk saya atau yang orang lain anggap dia pemiliknya.
Mari menunggu dan bersabar. Semoga Allah mempertemukan. Aamiin
Sambil menunggu lebih baik melakukan hal lain yaitu fokus kerja dan merencanakan hidup 1 hingga 2 tahun kedepan.
No comments:
Post a Comment